Kamis, 19 Desember 2013

ARTIKEL




BAHASA CINTA TAK MAMPU DUDUKI BAHASA INDONESIA
Bahasa dianggap penting dalaam komunikasi . komunikasi dapat terarah dengan adanya bahasa. Secara ilmiah bhasa ada dua, yakni bahasa lisan dan bahasa isyarat. Keduanya memiliki kelebihan dan  kelemahan masing-masing. Setiap bahasa memiliki cakupan dan luas wilayah pemakaian tersendiri. Salah satu bahasa yang sering digunakan oleh kalangan remaja adalah bahasa cinta, yang dianggap dapat mewakili perasaan hati para remaja.  Semua kata-kata dapat dilukiskan dengan hal-hal yang indah sehingga bahasanya hanya komunikatif bagi mereka saja. Nah, hal ini menjasi pertanyaan bagi kita bagaimana bahasa cinta bagi remaja dan berdampakkah bagi bahasa indonesia ?
Setiap remaja tentu memiliki keunikan dan kelebihan terendiri  dalam mengutarakan makna hatinya. Cinta, cinta, cinta. Semua mengatakan cinta, dan yang tergolong mesra adalah cinta. Begitu juga dengan bahasa yang puitis, yakni bahasa cinta. Bahasa cinta identik dengan bahasa yang bersifat puitis. Keindahan, kesenagan, kebahagiaan, kenyamanan, semua merupakan unsur-unsur yang harus ada dalam bahasa cinta.
Ada yang beranggapan bahwa bahasa cinta dapat membangkitkan imajinasi seseorang. Imajinasi terbangun dengan adanya respon terhadap lawannya. Imajinasi memang dapat dirangsang dengan bahasa-bahasa yang puitis. Namun perlu digaris-bawahi bahwa kepuitisan bahasa bergantung akan respon pendengarnya. Maka dari itu, semua orang memiliki cara yang tepat untuk merangsang pendengarannya melalui bahasa. Cinta menjadi sarana bagi kalangan remaja untuk mengutarakan makna hati. Makna hati dapat dituangkan melalui bahasa yang puitis. Kepuitisan bahasa tergantung pada diksi atu pilihan kata yang digunakan. Sebagai contoh, banyak remaja yang mengatakan kata-kata puitis pada kekasihnya. Jadi, hal ini membuktikan bahwa bahasa cinta menjadi sarana dalam mengutarakan makna hati.
Nah, jika dikaitkan dengan bahasa indonesia, bahasa cinta bukan bahasa yang baik dan benar yang sesuai dengan ejaan yang disempurnakan. Walaupun pilihan kata yang digunakan cukup puitis, tetapi secara linguistik telah melanggar kaidah berbahasa yang baik dan benar. Namun, jika dikaitkan dengan kalangan remaja, bahasa cinta bersifat komunikatif. Artinya bahasa cinta dapat dipakai dan dimengerti para remaja.
Nah, hal ini membuktikan bahasa cinta juga bersifat komunikatif. Sayangnya, hanya dapat digunakan oleh kalangan mereka saja. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa hal itulah yang menjadi kelemahan bahasa cinta dibanding bahasa indonesia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar