BAHASA CINTA TAK MAMPU DUDUKI BAHASA INDONESIA
Bahasa dianggap penting dalaam komunikasi .
komunikasi dapat terarah dengan adanya bahasa. Secara ilmiah bhasa ada dua,
yakni bahasa lisan dan bahasa isyarat. Keduanya memiliki kelebihan dan kelemahan masing-masing. Setiap bahasa
memiliki cakupan dan luas wilayah pemakaian tersendiri. Salah satu bahasa yang
sering digunakan oleh kalangan remaja adalah bahasa cinta, yang dianggap dapat mewakili
perasaan hati para remaja. Semua
kata-kata dapat dilukiskan dengan hal-hal yang indah sehingga bahasanya hanya
komunikatif bagi mereka saja. Nah, hal ini menjasi pertanyaan bagi kita
bagaimana bahasa cinta bagi remaja dan berdampakkah bagi bahasa indonesia ?
Setiap remaja tentu memiliki keunikan dan
kelebihan terendiri dalam mengutarakan
makna hatinya. Cinta, cinta, cinta. Semua mengatakan cinta, dan yang tergolong
mesra adalah cinta. Begitu juga dengan bahasa yang puitis, yakni bahasa cinta.
Bahasa cinta identik dengan bahasa yang bersifat puitis. Keindahan, kesenagan,
kebahagiaan, kenyamanan, semua merupakan unsur-unsur yang harus ada dalam
bahasa cinta.
Ada yang beranggapan bahwa bahasa cinta
dapat membangkitkan imajinasi seseorang. Imajinasi terbangun dengan adanya
respon terhadap lawannya. Imajinasi memang dapat dirangsang dengan
bahasa-bahasa yang puitis. Namun perlu digaris-bawahi bahwa kepuitisan bahasa
bergantung akan respon pendengarnya. Maka dari itu, semua orang memiliki cara
yang tepat untuk merangsang pendengarannya melalui bahasa. Cinta menjadi sarana
bagi kalangan remaja untuk mengutarakan makna hati. Makna hati dapat dituangkan
melalui bahasa yang puitis. Kepuitisan bahasa tergantung pada diksi atu pilihan
kata yang digunakan. Sebagai contoh, banyak remaja yang mengatakan kata-kata
puitis pada kekasihnya. Jadi, hal ini membuktikan bahwa bahasa cinta menjadi
sarana dalam mengutarakan makna hati.
Nah, jika dikaitkan dengan bahasa
indonesia, bahasa cinta bukan bahasa yang baik dan benar yang sesuai dengan
ejaan yang disempurnakan. Walaupun pilihan kata yang digunakan cukup puitis,
tetapi secara linguistik telah melanggar kaidah berbahasa yang baik dan benar.
Namun, jika dikaitkan dengan kalangan remaja, bahasa cinta bersifat komunikatif.
Artinya bahasa cinta dapat dipakai dan dimengerti para remaja.
Nah, hal ini membuktikan bahasa cinta juga
bersifat komunikatif. Sayangnya, hanya dapat digunakan oleh kalangan mereka
saja. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa hal itulah yang menjadi kelemahan
bahasa cinta dibanding bahasa indonesia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar